Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama bagi kalangan kecil dan lemah yang sering menjadi korban ketidakadilan hukum. Dalam arahannya, Prabowo menyoroti perilaku sebagian aparat penegak hukum yang masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
“Saya dapat laporan, masih ada praktik-praktik yang tidak benar di daerah-daerah. Jangan mencari-cari perkara terhadap orang kecil. Hidup mereka sudah susah, jangan diperberat,” tegas Prabowo.
Ia mencontohkan kasus-kasus lama yang masih teringat di benaknya, seperti anak sekolah dasar yang ditangkap karena mencuri ayam, atau ibu rumah tangga yang ditahan karena mencabut pohon. Menurutnya, penegakan hukum semacam itu mencederai rasa keadilan masyarakat.
“Penegak hukum harus punya hati. Kalau perlu, hakim, jaksa, atau polisi pakai uangnya sendiri ganti ayamnya. Itu baru manusiawi,” ujarnya.
Prabowo juga menyinggung bagaimana rakyat kini semakin cerdas dan berani menyampaikan aspirasi secara langsung melalui teknologi.
“Sekarang rakyat kita sudah pintar, mereka punya gadget. Kalau ada apa-apa, langsung lapor ke saya ‘Pak Prabowo, bantu kami rakyatmu.’ Lah, saya harus bersikap, karena itu rakyat saya,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Presiden menegaskan, pemerintahannya tidak akan membiarkan penegakan hukum menjadi alat menindas yang lemah, melainkan menjadi tameng bagi rakyat.
“Yang kuat akan tetap kuat, tapi kalau yang kuat melanggar hukum, ya kita adu kekuatan kuat negara atau kuat mereka. Jangan mereka kira Indonesia lemah,” tegasnya.
Prabowo menutup dengan pesan bahwa keadilan sejati hanya akan lahir jika aparat hukum memiliki nurani, bukan sekadar menjalankan prosedur.
“Marilah kita bersama-sama berjuang menyelamatkan seluruh kekayaan bangsa Indonesia,” tutupnya.
Presiden Prabowo Subianto juga mengatakan pentingnya penegakan hukum yang berkeadilan dan berperikemanusiaan. Dalam pidato di hadapan jajaran Kejaksaan Agung, Prabowo mengingatkan agar jaksa dan aparat hukum tidak mencari-cari perkara terhadap rakyat kecil.
“Orang kecil hidupnya sudah sangat susah. Jangan diperberat dengan mencari-cari hal yang tidak perlu dicari,” ujar Prabowo.
Ia menyinggung contoh kasus lama — anak SD yang ditangkap karena mencuri ayam dan seorang ibu ditahan karena mencuri pohon — sebagai bentuk ketimpangan moral aparat hukum.
“Tumpul ke atas, tajam ke bawah. Itu zalim, angkara murka, jahat,” tegasnya.
Prabowo menekankan bahwa aparat negara seharusnya membela rakyat kecil, bahkan bila perlu membantu secara pribadi.
“Kalau perlu hakim, jaksa, atau polisi pakai uangnya sendiri untuk mengganti ayamnya. Anak itu saya bantu, saya kasih beasiswa,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan agar seluruh aparat hukum membantu presiden menegakkan kebenaran dan membela yang lemah, sembari memastikan kekayaan bangsa tidak dikuasai oleh pihak-pihak kuat yang melanggar hukum.
“Yang kuat kalau melanggar hukum, kita adu kekuatan — kuat negara atau kuat mereka. Jangan mereka kira Indonesia lemah.”
