10.4 C
New York

Langkah Positif dan Berani Pemerintah Menuju Kemandirian Industri Perkeretaapian Nasional

Published:

Jakarta — Pemerintah mulai menegaskan arah baru pembangunan transportasi nasional. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa pemerintah akan fokus mengembangkan sistem perkeretaapian berbasis produk buatan Indonesia sendiri.

Langkah ini menandai perubahan paradigma dari pola pembangunan infrastruktur yang selama ini sangat bergantung pada impor, menuju era kemandirian industri transportasi nasional. “Kita tidak hanya ingin membeli sesuatu dari luar, tapi juga ingin menghidupkan industri perkeretaapian nasional. Kalau ada demand, pasti ada supply, dan ini akan menggerakkan kembali ekonomi,” ujar AHY dalam konferensi pers di Jakarta, seperti dikutip dari Medcom.id.

Pernyataan itu mengandung arah kebijakan yang dalam: industri transportasi bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang menumbuhkan kemampuan teknologi dan daya saing bangsa. AHY menegaskan, pembangunan perkeretaapian ke depan harus disertai dengan penguatan industri manufaktur pendukung di dalam negeri — mulai dari desain rangka, sistem tenaga, hingga komponen elektronik dan keamanan.

Dari Konsumen Menjadi Produsen

Pengamat publik Sigma menilai langkah tersebut sangat positif dan strategis. Dalam pandangannya, fokus terhadap kemampuan produksi dalam negeri merupakan jalan yang tak terelakkan menuju kedaulatan industri. “Ini langkah sangat positif. Fokus kepada kemampuan dalam negeri itu lebih penting, karena pada saatnya kereta cepat pun akan mampu diproduksi sendiri,” kata Sigma kepada BeritaIndonesia.news, Rabu (23/10/2025).

Menurutnya, Indonesia telah memiliki modal awal yang cukup kuat melalui kehadiran PT INKA (Persero) di Madiun, yang berhasil memproduksi kereta rel listrik (KRL) buatan dalam negeri. Produk ini menjadi bukti bahwa industri nasional telah memasuki tahap baru: dari perakitan sederhana menjadi produsen teknologi transportasi modern.

“Begitu sudah ada contoh barangnya, tidak susah untuk mempelajarinya. Industri tinggal melakukan reverse engineering, memahami sistem kontrol, aerodinamika, dan efisiensi energi. Setelah itu tinggal memperkuat kemampuan riset dan memperluas lokalisasi komponen,” jelas Sigma.

Ia menambahkan, pengalaman PT INKA seharusnya menjadi titik pijak untuk melahirkan generasi baru insinyur dan teknisi Indonesia yang menguasai teknologi perkeretaapian secara utuh. Menurutnya, jika pemerintah memberi ruang riset dan dukungan kebijakan yang konsisten, Indonesia bisa menempuh jalur yang sama dengan Korea Selatan dan Tiongkok — dua negara yang awalnya belajar dari luar, namun kini menjadi produsen utama kereta cepat di dunia.

Efek Berganda untuk Ekonomi Nasional

Langkah pemerintah mengembangkan industri kereta dalam negeri bukan sekadar soal kebanggaan teknologi. Sigma menilai kebijakan ini akan menghasilkan efek berganda yang besar bagi ekonomi nasional.

“Setiap rupiah yang diinvestasikan untuk industri perkeretaapian dalam negeri akan kembali ke rakyat dalam bentuk lapangan kerja, peningkatan keahlian, dan tumbuhnya rantai pasok domestik. Nilai tambah ekonominya tidak bocor ke luar negeri,” ujarnya.

Selain itu, pembangunan sistem transportasi berbasis produksi lokal juga dapat menghemat devisa, memperkuat neraca perdagangan, dan menciptakan daya saing ekspor baru. Indonesia bahkan berpotensi menjadi pusat produksi dan perawatan kereta untuk kawasan Asia Tenggara, dengan dukungan kapasitas PT INKA dan jaringan logistik yang semakin berkembang.

Membangun Kemandirian Teknologi

Namun, untuk mencapai kemandirian penuh, Sigma mengingatkan bahwa pemerintah harus memastikan keberlanjutan kebijakan industri dan investasi riset jangka panjang. “Tidak cukup hanya dengan proyek sesaat. Harus ada program riset terpadu antara pemerintah, BUMN, dan universitas. Negara yang ingin mandiri secara teknologi harus berani berinvestasi pada pengetahuan,” tegasnya.

Dalam konteks globalisasi, langkah Indonesia menuju kemandirian industri kereta juga dapat menjadi simbol kebangkitan bangsa yang ingin berdiri di atas kaki sendiri. Sigma menegaskan, arah kebijakan AHY ini bisa menjadi babak baru transformasi industri nasional yang berbasis pada kemampuan, bukan ketergantungan.

“Kalau arah ini dijaga, lima sampai sepuluh tahun ke depan kita bisa lihat kereta cepat, kereta logistik, dan LRT buatan Indonesia beroperasi penuh di negeri sendiri — bahkan mungkin diekspor ke negara lain. Itu artinya kita sudah menjadi bangsa produsen, bukan hanya konsumen,” tutup Sigma.


Catatan Redaksi : Dengan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, sinergi industri, dan keberanian berinovasi, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk membangun kemandirian teknologi transportasi nasional — sebuah cita-cita besar yang tengah mulai diwujudkan

Related articles

Recent articles

spot_img