Padang — Provinsi Sumatera Barat mencatatkan hasil produksi ikan tuna yang menggembirakan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus, Kota Padang, total tangkapan tuna mencapai 754 ribu kilogram atau lebih dari 754 ton. Angka tersebut menunjukkan kinerja positif sektor perikanan tangkap di wilayah barat Sumatera yang menghadap langsung ke Samudera Hindia.
Kepala PPS Bungus, Kurniawan, menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak hanya berasal dari kapal-kapal lokal, tetapi juga dari kapal perikanan luar daerah yang beroperasi di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) barat Sumatera. “Tuna menjadi komoditas unggulan ekspor yang terus meningkat, baik untuk pasar Jepang, Thailand, maupun Amerika Serikat,” ujarnya.
Menurutnya, jenis tuna yang paling banyak didaratkan adalah tuna sirip kuning (yellowfin tuna) dan tuna mata besar (bigeye tuna). Ikan-ikan tersebut ditangkap menggunakan kapal pancing ulur dan longline, kemudian diproses oleh sejumlah unit pengolahan ikan (UPI) di Padang sebelum dikirim ke luar negeri.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan apresiasi kepada nelayan Sumatera Barat yang mampu menjaga keberlanjutan produksi meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan biaya operasional yang tinggi. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan fasilitas pelabuhan, termasuk penyediaan es curah, tangki BBM, dan sistem pendingin modern, agar mutu ikan tetap terjaga hingga tahap distribusi.
Selain meningkatkan ekspor, PPS Bungus juga menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Ribuan tenaga kerja terlibat dalam aktivitas bongkar muat, pengolahan ikan, hingga perdagangan hasil laut. Hal ini menjadikan sektor perikanan salah satu penyokong utama ekonomi daerah.
Dengan potensi laut yang luas dan sumber daya ikan yang melimpah, Sumatera Barat diharapkan terus memperkuat posisi sebagai sentra produksi tuna nasional yang berdaya saing tinggi, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut di perairan barat Indonesia.
