Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata:
اجتهادُكَ فيما ضُمِنَ لك، وتَقصيرُكَ فيما طُلِبَ منك، دليلٌ على انطماسِ البصيرةِ منك
“Kesungguhanmu terhadap sesuatu yang telah dijamin bagimu (rezeki dan dunia), dan kelalaianmu terhadap apa yang dituntut darimu (ketaatan kepada Allah), adalah bukti bahwa mata hatimu telah tertutup.”
Pendahuluan Hakikat
Hikmah ini adalah cermin paling tajam bagi para salik (pencari jalan kepada Allah).
Ia membongkar ilusi terbesar manusia:
Manusia bersungguh-sungguh dalam perkara dunia yang sudah Allah jaminkan, tetapi bermalas dalam perkara akhirat yang Allah wajibkan.
Seakan-akan:
-
rezeki bergantung pada siasat dirinya,
-
kelangsungan hidup bergantung pada ketekunan dirinya,
-
masa depan bergantung pada strategi dirinya.
Padahal Allah berfirman:
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 22)
Dan juga:
“Tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Bila rezeki sudah dijamin, mengapa manusia terlalu keras mengejarnya?
Bila akhirat belum dijamin, mengapa justru manusia mengabaikannya?
Inilah keterbalikan prioritas yang menunjukkan padamnya basirah — mata hati.
1. Rezeki Sudah Dijamin — Bukan Diusahakan Dengan Kecemasan
Ibnu ‘Athaillah tidak mengatakan:
-
jangan bekerja,
-
jangan berusaha,
-
jangan berdagang,
-
jangan bergerak.
Tidak.
Yang beliau kritik adalah kesungguhan berlebihan, sampai melupakan Allah.
Karena ada perbedaan besar antara:
a) Usaha yang wajar
Usaha adalah ibadah, amanah, dan kewajiban yang melekat pada fitrah manusia.
b) Kesungguhan yang berlebihan
Kesungguhan yang lahir dari:
-
ketakutan,
-
kecemasan,
-
obsesi,
-
ambisi dunia,
-
ketergantungan hati,
-
kehilangan tawakkal.
Inilah yang dicela oleh hikmah ini.
2. Dunia Sama Sekali Tidak Mengikuti Kesungguhan Usaha Manusia
Satu-satunya hal yang benar-benar jelas dalam hidup:
Dunia tidak bergantung pada usaha manusia.
Buktinya:
-
Banyak yang malas, tapi kaya.
-
Banyak yang bekerja keras, tetapi miskin.
-
Banyak yang strateginya salah, tapi sukses.
-
Banyak yang sangat cerdas, tetapi tidak beruntung.
-
Banyak yang tidak sekolah, namun menjadi pemimpin.
Ini semua menunjukkan bahwa rezeki adalah pembagian Allah, bukan hasil jerih payah belaka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah memberi kalian rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Burung itu:
-
bergerak,
-
terbang,
-
mencari,
Tetapi tidak cemas.
Itulah tawakkal yang benar.
3. Lalu Apakah Yang “Dituntut” Dari Manusia?
Yang benar-benar dituntut dari manusia bukan:
-
keberhasilan,
-
kekayaan,
-
jabatan,
-
keamanan dunia,
-
kelapangan hidup.
Yang dituntut adalah:
a) Ketaatan
Shalat, puasa, zakat, ibadah pokok.
b) Kebersihan hati
Ikhlas, tawakkal, sabar, syukur.
c) Adab
Menjaga hak Allah dan hak manusia.
d) Menghindari maksiat
Menjauhi dosa lahir dan batin.
Semua ini tidak dijamin Allah,
melainkan dituntut dari setiap manusia.
Namun, anehnya:
Yang dijamin → dikejar dengan sekuat tenaga.
Yang dituntut → dikerjakan setengah hati.
Inilah bukti padamnya mata hati.
4. Padamnya Basirah: Ketika Hati Tidak Lagi Melihat Kebenaran Dengan Jelas
Basirah adalah cahaya batin yang membuat seseorang:
-
melihat dunia secara proporsional,
-
menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,
-
memahami hakikat di balik peristiwa,
-
menangkap isyarat dari Allah.
Ketika basirah padam:
-
manusia sibuk pada halal dan haram dunia, tetapi lupa halal dan haram amal;
-
sibuk mengejar dunia yang fana, tetapi mengabaikan akhirat yang kekal;
-
sangat berstrategi mencari harta, tetapi tidak punya strategi menghindari dosa;
-
bersungguh-sungguh meraih yang tidak wajib, tetapi malas menjalankan yang wajib.
Orang seperti ini tidak bisa melihat apa yang sebenarnya penting.
Inilah “kebutaan batin”.
5. Kebingungan Prioritas: Tanda Penyakit Hati
Ibnu ‘Athaillah menyebut fenomena ini sebagai pembalikan skala nilai.
Contoh nyata:
1) Orang bangun pukul 3 pagi untuk bisnis,
tapi tidak untuk shalat malam.
2) Orang sanggup berjam-jam rapat pekerjaan,
tapi bosan membaca Al-Qur’an 10 menit.
3) Orang kuat menahan lapar demi diet,
tapi tidak untuk puasa sunnah.
4) Orang gigih mengejar karier,
tapi pasif mengejar ampunan.
5) Orang stres memikirkan tagihan,
tapi tidak pernah gelisah memikirkan dosa.
Semua ini menunjukkan:
hatinya telah dibutakan oleh dunia.
6. Allah Tidak Melarang Berusaha, Tetapi Melarang Bergantung Pada Usaha
Ada perbedaan mendasar antara:
i) bekerja karena Allah,
ii) bekerja untuk dunia, dan
iii) bekerja demi ketakutan.
Yang dicela oleh hikmah ini adalah nomor (ii) dan (iii):
-
bekerja karena takut miskin,
-
bekerja karena takut kalah,
-
bekerja karena ingin unggul,
-
bekerja karena mengejar status,
-
bekerja karena obsesi dunia.
Allah memerintahkan bekerja, tetapi melarang menuhankannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah.”
(HR. Bukhari)
Hamba dinar = hidupnya mengabdi kepada uang.
7. Mengapa Kesungguhan Pada Dunia Disebut “Kesesatan”?
Karena kesungguhan yang tidak pada tempatnya adalah ketertipuan jiwa:
-
yang dijamin Allah → tidak perlu terlalu serius, cukup wajar
-
yang tidak dijamin → harus diperjuangkan habis-habisan
Ibnu Qudamah mengatakan:
“Manusia lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan agama.”
Inilah puncak padamnya basirah:
dunia dianggap nyawa,
agama dianggap beban.
8. Hikmah 38 Adalah Undangan Untuk Menata Kembali Prioritas Hidup
Agar hidup berada pada poros yang benar, seorang salik harus:
(1) Mengutamakan yang wajib daripada yang sunnah
Banyak orang rajin amalan sunnah tapi lalai pada yang wajib.
(2) Mengutamakan memperbaiki hati daripada memperbanyak kegiatan
Karena hati yang rusak tidak akan memberi nilai pada amal.
(3) Mengutamakan akhirat di atas dunia
Tanpa mengabaikan dunia.
(4) Mengutamakan ridha Allah di atas ridha manusia
(5) Menghindari kelalaian yang membuat hati gelap
9. Tiga Cara Menghidupkan Kembali Basirah yang Padam
1) Murāqabah — merasa selalu diawasi Allah
Ini membuat dunia mengecil, akhirat membesar.
2) Tadabbur Qur’an
Qur’an mengembalikan orientasi hidup ke titik yang benar.
3) Menyederhanakan keinginan dunia
Semakin banyak keinginan, semakin gelap basirah.
Sufi berkata:
“Barangsiapa ingin hatinya bercahaya, ringankan beban dunianya.”
10. Penutup: Hikmah Ini Adalah Terapi Kebalikan Arah Hidup
Hikmah ini mengobati penyakit:
-
prioritas yang terbalik,
-
kesibukan yang tidak perlu,
-
obsesi dunia,
-
kecemasan rezeki,
-
kelalaian pada Allah.
Sehingga seorang hamba kembali melihat dengan jernih:
-
Dunia bukan penentu rezeki — Allah-lah Penjaminnya.
-
Akhirat bukan jaminan — tetapi sangat layak diperjuangkan.
-
Dunia yang kecil tidak boleh mengalahkan akhirat yang besar.
-
Waktu singkat di dunia menentukan nasib selama-lamanya.
Hikmah ini ingin menegakkan kembali pilar kehidupan:
Kerjakan kewajibanmu untuk Allah sekuat-kuatnya.
Kerjakan urusan duniamu sekadarnya, tanpa ketergantungan.
Karena dunia telah dijamin, sedang akhirat tidak pernah dijamin.
